The mind of the night
…And the day but one;
Yet the light of the bright world dies
…With the dying sun.
The mind has a thousand eyes,
…And the heart but one;
Yet the light of a whole life dies
…When love is done.
die,
akuluka.net
The mind has a thousand eyes,
…And the heart but one;
Yet the light of a whole life dies
…When love is done.
die,
akuluka.net
die,
akuluka.net
berharap menenggelamkan diri
dari mimpi-mimpi
ternyata hanya memungkiri hati
bahwa rasa itu padamu takkan berhenti
salamati,
akuluka.net
Chapter III
Matahari menerobos jendela kamarku. menjamahi celah-celah gordyn. Menjilati mataku yang terbuka seperempat. Kau tahu, aku sangat menyukainya. Setiap pagi, hanya hal ini yang membuktikan bahwa aku masih bernafas dan diberi hari baru, kesempatan baru dan harapan baru dari tuhan diatas sana. Diatas sana. Siapa yang membuat kesimpulan bahwa tuhan pasti diatas sana? Di langit, dibalik awan. Karena dia maha kuasa, maka dia selalu diatas? apa bedanya dengan man on top? Menurutku, karena maha kuasa dia ingin lebih dekat dengan mahluknya. Mungkin, sekarang dia lagi duduk di sofa bututku dan memperhatikan aku atau dia sedang menemani seorang ibu melahirkan di rumah sakit. Mungkin, dia sedang menyaksikan eksekusi mati seorang kriminal tersadis di dunia dan memaafkannya? Who knows?
Aku melihat rupaku di cermin, kucukur habis semua bulu yang tumbuh di wajahku, kecuali alisku. Hmm…not bad. Aku seorang bajingan dengan wajah malaikat, hidungku lancip dan kurus, mulutku tebal dengan bibir atas mencuat keatas, tulang pipiku tinggi dan agak menonjol, rambutku hitam sebahu selalu menutupi sebagian wajahku, alis tebalku yang hampir membentuk jembatan membingkai mata yang teduh tapi pesakitan, seperti mata seekor anjing sakit yang ketakutan. Yang membuat wajahku sedikit ‘galak’ adalah bekas luka di tengah alis yang membelah kedua kelopak mata kiriku sepanjang 6 cm kebawah. Yeah….sedikit garis maskulin. Sekarang aku melihat tubuhku, aku berdiri polos tanpa baju. Tinggiku hampir menggapai pintu, ya sekitar 178cm. Anusha 8 senti lebih tinggi dariku. Kulitku berwarna putih kemerahan, aku tidak akan pernah bisa hitam entah kenapa. Badanku terlihat kurus, walau dadaku tegap tetapi tidak berotot, aku tidak punya bulu dada, tetapi penuh dibagian kaki, lengan dan dibawah pusar. Tulang kakiku terlihat besar dan kotak. Aku berbalik, bokongku terlihat seperti dua bantal bulu yang dilapisi kulit babi, halus tanpa bulu. Sedikit menjijikan sebenarnya. Putingku berwarna merah kecoklatan. Aku persis seperti anak belasan tahun, tapi tidak! anak belasan mana mungkin punya ukuran kelamin sebesar aku. Aku memakai celana jeans favorit, jeans vintage 70an kepunyaan si papa-papa itu, lalu mengambil sweater hitam yang robek di jahitan dekat ketiaknya, aku memakai jam tangan besar yang kubeli dari hasil penjualan script pertama. Cincin raksasa perak yang menutupi huruf “U” di jari manisku, Kelingking “L”, jari tengah “K”, dan telunjuk “A”. Tattoo yang kubuat tepat saat umurku 17 tahun. Ku pakai sneaker hitam yang terlihat old school dan terakhir kusemprotkan parfum berbau ringan. Aku suka wewangian, karena bau akan mengingatkan kamu pada suatu hal, suatu masa atau suatu momen istimewa. Terakhir, aku membawa teropong kecil yang selalu kusimpan dengan baik. Sebelum berangkat sekali lagi kulihat diriku didalam kaca, dan berkata dalam hati, “Aku siap menemuinya….” …selebihnya
Waktu sudah menunjukan jam 3.20 sore, aku lari secepat mungkin menuju tempat itu aku sangat takut terlambat. Walaupun toko buku bekas itu tidak terlalu jauh dari tempat kosku, tapi aku sangat takut terlambat. Dengan nafas terengah-engah, aku mencapai pintu toko itu dan langsung melihat ke pojok kiri ruangan. Di bawah buku-buku tebal tua dan tulisan bagian “Sejarah”, dia masih ada, seperti biasa, duduk di kursi kecil yang ada disitu, sendiri dan melahap buku-buku lama yang sama sekali jarang diminati oleh pengunjung toko buku itu. Aku mengatur nafas dan mulai berjalan pelan menghampiri kearahnya, tepat disebelahnya aku pura-pura mencari buku yang ada diatas kepalanya. Dia sama sekali tidak bergerak ke pinggir atau merasa risih dengan kehadiranku, Dia begitu tenggelam dengan bacaannya, atau tidak bergerak, wajahnya tanpa ekspresi kecuali matanya. Matanya terlihat begitu tertarik dengan bacaan itu, sehingga terlihat berbinar-binar bahkan berkilat-kilat, dia sangat terbawa. Aku duduk tidak jauh darinya, sebenarnya tepat di seberangnya, sehingga aku dapat melihat jelas mata yang ditutup kacamata itu hidup terus menerus. Hal ini sudah sering aku lakukan, kadang aku sengaja menyenggol lengannya dan mengatakan maaf tetapi dia tidak pernah melihat kearah mukaku, dia akan hanya melihat lenganku sedikit, bergerak sedikit dan kembali ke dunianya. Kadang aku sengaja menjatuhkan bukunya, tapi dia hanya memungutnya kembali dan langsung pergi tanpa menghiraukan aku yang mencoba menolongnya dan bicara padanya. Sepertinya dia tidak mau mengadakan kontak sama sekali, tidak hanya denganku tapi dengan semua orang. Aku mengira dia bisu-tuli, seandainya dia tidak bicara dengan pemilik toko yang baik hati itu.
….Selebihnya
Jika kamu benar-benar ingin tahu, pertama yang pasti kamu penasaran adalah dimana aku lahir dan betapa menyedihkannya masa kecilku dulu dan mengapa orangtuaku terinspirasi utuk menamaiku seperti ini hanya karena menonton sebuah film bodoh itu. My name is Luka, hanya Luka. Luka adalah tokoh mafia Sicilia yang sangat tampan, sarcastic, full of black comedy, sado-masochist sekaligus romantic fool dan melankolis. Apakah mereka mengharapkan aku tumbuh dengan karakter seperti Luka? Mungkin, mungkin juga tidak. Hell with it. Aku lahir disebuah rumah bersalin di kampung pinggiran kota kembang. Tumbuh disana dan mengharapkan bisa mati disana pula. Banyak yang bilang Bandung itu menyenangkan dan indah dibandingkan kota-kota lainnya. Padahal sekarang Bandung sudah seperti kota-kota besar lainnya, berisik dan macet dimana-mana. tapi setidaknya aku masih beruntung masih bisa merasakan kabut turun setiap pagi waktu menunggu angkot. Dan bersepeda riang atau bersepatu roda di jalan Cikapayang membayangkan diri seperti Olga sigadis sepatu roda. Well I love Bandung, tidak ada tempat yang seindah ini didunia….dulu. Benar, kan? Btw, sampe dimana tadi? O iya, ….My Old Man? Ayahku seorang pekerja keras, dari yang mulanya bukan siapa-siapa sekarang sudah menduduki posisi penting di semua perusahaan yang dia bangun dengan perasan keringatnya. Ia mempunyai perusahaan sebanyak tebaran sperma di vagina gundik-gundiknya. Keturunan Sunda-Bali sebuah kombinasi yang indah, ayahku very stylish atau jaman sekarang bisa disebut cowok metroseksual, he had all main brands in his closet and he wore a brand for a day from head to toe. Ibuku lebih muda lima tahun dari ayah, sangat kalem dan pintar, tapi dibalik ketenangannya dia memendam amarah yang besar dihatinya. selalu becus mengurusi rumah tangga dan menutupi kebodohan-kebodohan yang dibuat oleh ayahku.
…Selebihnya
salamati,
akuluka.net
salamati,
akuluka.net
salamati,
akuluka.net
salamati,
akuluka.net