My pathetic life

Chapter I

Jika kamu benar-benar ingin tahu, pertama yang pasti kamu penasaran adalah dimana aku lahir dan betapa menyedihkannya masa kecilku dulu dan mengapa orangtuaku terinspirasi utuk menamaiku seperti ini hanya karena menonton sebuah film bodoh itu. My name is Luka, hanya Luka. Luka adalah tokoh mafia Sicilia yang sangat tampan, sarcastic, full of black comedy, sado-masochist sekaligus romantic fool dan melankolis. Apakah mereka mengharapkan aku tumbuh dengan karakter seperti Luka? Mungkin, mungkin juga tidak. Hell with it. Aku lahir disebuah rumah bersalin di kampung pinggiran kota kembang. Tumbuh disana dan mengharapkan bisa mati disana pula. Banyak yang bilang Bandung itu menyenangkan dan indah dibandingkan kota-kota lainnya. Padahal sekarang Bandung sudah seperti kota-kota besar lainnya, berisik dan macet dimana-mana. tapi setidaknya aku masih beruntung masih bisa merasakan kabut turun setiap pagi waktu menunggu angkot. Dan bersepeda riang atau bersepatu roda di jalan Cikapayang membayangkan diri seperti Olga sigadis sepatu roda. Well I love Bandung, tidak ada tempat yang seindah ini didunia….dulu. Benar, kan? Btw, sampe dimana tadi? O iya, ….My Old Man? Ayahku seorang pekerja keras, dari yang mulanya bukan siapa-siapa sekarang sudah menduduki posisi penting di semua perusahaan yang dia bangun dengan perasan keringatnya. Ia mempunyai perusahaan sebanyak tebaran sperma di vagina gundik-gundiknya. Keturunan Sunda-Bali sebuah kombinasi yang indah, ayahku very stylish atau jaman sekarang bisa disebut cowok metroseksual, he had all main brands in his closet and he wore a brand for a day from head to toe. Ibuku lebih muda lima tahun dari ayah, sangat kalem dan pintar, tapi dibalik ketenangannya dia memendam amarah yang besar dihatinya. selalu becus mengurusi rumah tangga dan menutupi kebodohan-kebodohan yang dibuat oleh ayahku.

Mereka semua anti kemiskinan, karena mereka mudah sekali terenyuh ketika berhubungan dengan ini. They are healthy concern people, they have a good social life, they are rich and famous also well mannered. one of the perfect couple in Indonesia versi majalah bisnis terkenal. Amazing, right? Are you impressed? Well…. Anjinglah mereka! Untukku mereka tak lebih dari dua orang penipu ulung. Siapa yang perduli dengan semua itu? Fuck ‘em hypocrites! Terlalu berlebihan? Aku tak pernah minta untuk dilahirkan, kenapa mereka harus bersenggama dan meracikku malam itu? aku tak pernah minta menjadi seperti ini. Ah sudahlah, hal seperti ini terlalu membosankan untukku, lagipula aku tak akan menceritakan semua sejarah hidupku atau apapun itu. Aku hanya ingin bercerita tentang beberapa kejadian yang menimpaku dalam beberapa minggu lalu sebelum aku luluh lantak seperti sekarang ini.
Itulah yang aku bilang sama Amare, kakakku satu-satunya yang menjadi direktur operasional disebuah perusahaan asing terkenal, jabatan yang didapat hanya dengan menyanjung rasa humanis ayah dan Ia mendapatkan posisi itu dengan menyingkiran beberapa ratus kompetitor, yang mungkin lebih baik dan lebih potensial untuk pekerjaan itu, hebatnya kekuasaan dan koneksi bisa mengalahkan otak terencer didunia sekalipun. She visited me Practically every weekend with her hi-class partygoers friends. Orang-orang hedonis yang merasa dilahirkan hanya untuk hura-hura. Dia tinggal disebuah apartemen mewah di Jakarta. alasannya biar lebih dekat dengan kantor pun agar lebih mandiri, Bullshit! aku yakin dia butuh ruang yang lebih luas untuk kehidupan hedonismnya dan jauh dari mata dan kuping orang tuaku.
Well, dia memang cantik dan proporsional and punya banyak uang sekarang, buktinya dia bisa beli apartemen dan mobil mewah itu dengan uangnya sendiri. and again…pretty amazing, huh? She’s just got graduated from uni and 26 years old. suka sekali dengan sepatu cantik, wine dan rokok. Dia juga penggemar lukisan kontemporer dan post-mo. yang aku pikir jelek sama sekali. apakah lukisan dengan background merah dengan tusuk konde besar ditempel ditengah-tengahnya itu bisa dibilang indah? That’s killing me…

Seni asal-asalan, mengapa orang-orang sekarang khususnya di kota besar lebih suka lukisan yang asal dibuat? mungkin mereka hanya sok arty, sok eksentrik, mungkin juga mereka bodoh diperdaya oleh si pelukis atau kritikus-kritikus seni yang mengatakan bahwa lukisn yang mirip kotoran sapi itu mengandung seni yang sangat dalam, dari mana mereka menilainya? tapi tidak bisa disalahkan, pelukis kan juga perlu uang, mungkin kepuasan batin akan menjadi nomor dua bila berurusan dengan uang, ada pelukis menerima pesanan si penggemar lukisan, rasa dan inspirasi bisa dipesan? Lucu.
Memangnya aku ini siapa? aku Luka, bukan siapa-siapa. Tidak mau menyerang pihak mana-mana. Seorang idealis pembongkar dogma yang masih berasa. Bisa dibilang aku ini pengecut, dari kecil sampai sekarang aku selalu jadi si pengecut, bukan si penakut. Kadang kedua kata itu terdengar sama, padahal artinya saja jelas beda. Kau pikir aku merendahkan diri? Tidak, aku jujur. Aku adalah seorang pengecut yang bermulut besar. Aku tidak takut gelap, tidak takut hantu bahkan berteman dengannya, tidak takut preman, menyukai malam. Tapi aku paling takut menjadi seorang yang bodoh karena mau menerima kehidupan hanya sebagai mereka dan itupun harus berpura-pura menjadi orang yang menyenangkan dan selalu menjilati pantat atasan. Cukup sulit menjadi orang yang berbeda, it’s not easy to be me.
Aku ingin menciptakan jarak antara bayang-bayangku dan diriku sendiri, antara namaku dan diriku, antara kenangan akan namaku dan sisa diriku, antara tubuhku dan diriku, sehingga aku sendiri tanpa bayang-bayang dan embel-embel lain, tanpa kenangan. Aku tertarik dengan kematian, suatu proses menuju kesana. Hidup ini. Pikiran tentang kematian muncul dari dalam diri kita, pelan dan tanpa suara, seperti langkah ringan sang cheetah atau desis halus ular merayap mengintai mangsa, seperti hampur semua imajinasi kita yang mengerikan. Tindakan yang mendadak mencekik kita, tiba-tiba menghilang, dan kita tetap hidup terus. Pikiran-pikiran yang membawa kita pada bentuk-bentuk kegilaan yang paling bejad pada kesedihan yang terdalam. Pernah suatu waktu aku mengadu domba sahabat-sahabatku sendiri sampai mereka ingin saling membunuh dan hebatnya mereka sangat mempercayai aku dan berjanji akan melindungi aku sampai mati, aku senang. Mereka menjadi miliku seutuhnya menjadi budakku, tanpa rasa khawatir bahwa aku yang akan disingkirkan. Swept away.
Itulah salah satu alasan mengapa aku membunuh Avedis, anjing peking berumur satu tahun kepunyaan Kiara. Waktu itu aku masih sepuluh tahun dan aku sedikit iri dengan anjing sialan itu, Kiara membiarkannya tidur setiap malam dipangkuan. Terlalu manja. Terlalu berharap. Lucu. Ketika aku melihat langsung ke matana, Ia seperti berbicara,” Hey…Luka aku sakit, aku lelah menjadi anjing, bila kau ingin berbuat baik, inilah saatnya…Bunuh Aku! Cepat bunuh aku!! Lakukan dengan cepat dan tak menyiksa,…ya?” Dengan berat hati aku membunuhnya dengan memenggal kepala kecilnya sekali tebas dengan samurai pajangan di ruang tamu kepunyaan ayah. Aku sangat takut juga lega, tapi yang lebih kurasakan, rasa nikmat. Kenikmatan ini sangat baru bagiku. Maaf Adonis! Kamu terlalu berlebihan dengan predikatmu sebagai anjing. Aku harap dia akan reinkarnasi menjadi gadis, dengan sifatnya yang periang dan berisik itu dia akan menjadi gadis yang menarik. Mungkin aku mau berkencan dengannya bahkan menidurinya.
Kiara, kalian sudah tahu dia adikku paling kecil. Badannya semampai dengan betis yang indah, matanya coklat kehitaman, rambutnya ikal kecoklatan dengan bibir yang selalu merah, tulang pipinya tinggi seperti wanita-wanita aristokrat, keringatnya berbau buah prem. Dengan kata lain, adikku cantik. Dia baru 17 tahun, prestasi belajarnya mencengangkan, menguasai 6 bahasa dan dia selalu merekahkan senyum. Belum pernah sekalipun kulihat beban dimatanya yang riang. Sangat cantik, dia seperti bidadari berbau prem. Everyone is crazy about her, she just so adorable. Orang tuaku jatuh cinta habis-habisan dengannya, dia dijaga ketat seperti patung kristal. Dia selalu menjadi kebanggaan bagi orang-orang yang mengenalnya. Kiara selalu baik padaku, dia punya sejuta cara agar aku bisa selalu tersenyum (walaupun terkadang jokenya garing), jalan pikirannya selalu plain, sepertinya otaknya terbungkus oleh cermin dua arah sehingga dengan jelas aku bisa membaca dan mendengar cerita-cerita dongeng bodoh diwaktu aku masih kecil yang diceritakan oma sebelum aku tidur. Penuh dengan harapan muluk dan pemikiran Cliche. Dia sangat sayang padaku. That’s killing me
Minggu lalu adalah ulang tahunku yang ke duapuluh empat dan hari ini adalah tanggal 14 september, aku masih saja memikirkannya dan akupun yakin dia juga pasti dinegara ujung sana masih memikirkan aku. Kiara, aku rasa aku mencintaimu. Dia memberiku hadiah teropong kecil dengan ukiran kecil namaku diujungnya, LUKA. aku sangat tersentuh. Dengan bodohnya, dia juga memberi aku ciuman kecil dimulut tapi aku menyambutnya like a kiss from a lover, Ya…now I take her as my lover. kami berciuman dengan nafsu manusia yang paling liar dan lagu aku mencium bau prem.Manis.
Sekali lagi dengan bodohnya dia menyesali perbuatannya dan merasa malu. Gadis bodoh, kenapa kamu berani menciumku kalau akhirnya kamu malu. Mungkin dia sayang padaku tapi kunilai itu terlalu sok akrab, sok barat tapi dengan mental timur. Setelah kejadian itu dia berpura-pura seakan tidak pernah ada apa-apa diantara kami. Hanya karena ciuman kecil itu, aku tidak bisa tidur semalaman, dadaku berdetak dua kali lebih cepat bila dia menghampiriku. Bila seseorang menyebut namanya aku serasa ingin kencing. Ada sesuatu yang bergerak-gerak dibawah perutku. Geli dan kadang membuat aku ereksi. Menyenangkan. Aku mulai berfantasi diluar batas kakak-adik. Aku baru saja mencuri fotonya dari meja belajar Kiara. Foto itu diambil setahun yang lalu ketika dia dan orang yang disebut mama-papa itu berlibur ke sebuah tempat yang disebut Ibiza. Kiara memakai bikini two pieces warna biru laut dengan memegang buah kelapa ditangannya. Kulitnya menjadi merah kecoklatan, tungkai dan kakinya panjang dan mengkilat. Tulang selangkanya indah dan harus kuakui seksi. Aku sangat suka tulang selangka wanita, ada sesuatu yang menarik yang bisa di eksplor lebih jauh dari tulang tersebut. Ditengah tulang tersebut biasanya ada seperti segitiga bermuda kecil yang tidak ada namanya dalam anatomi tubuh manusia yang kerap melenyapkan bagian tubuh dari lawan jenisnya. Aku onani. Perlu diketahui, aku masih perjaka. Bukan tidak ada kesempatan untuk melepas itu, hanya saja aku tidak bisa membedakan mana yang benar-benar tidak mau atau hanya sok jual mahal, kau tahu, ada tipe yang bilang tidak but meaning ya, playing hard to get. Whatever….lebih baik aku tahan saja dulu untuk orang yang tepat dan untuk orang yang benar-benar menginginkan aku dan yang aku cintai. Malam itu aku menghampiri kamar tidurnya.
“Kiara, kamu lagi apa?”, aku mengintip dari balik pintu. Ternyata dia sedang didepan kaca riasnya mematut-matutkan wajah cantiknya.
“What do you want?” Ia selalu bicara dalam bahasa Inggris, that’s kill me.
“Mau ngobrol aja, boleh kan?” Aku masuk, menarik bangku dan duduk tepat dibelakangnya. Ah lagi-lagi bau prem itu.
“So….Talk!! But if ya wanna talk ’bout that nite, just forget it! I just felt sorry for ya, coz nobody cares bout you nor your birthday!” terus saja bicara, tanpa melihat kearah mataku. Aku mengambil sisir dari meja dan mulai menyisir rambutnya yang indah.
“What are you doin’? Bloody Hell! Put your hands off my hair! Rambutku sudah rapi dan halus, kamu cuma membuatnya berantakan lagi dan I have to do it again!”, Sergahnya. Aku bergeming dengan teriakannya dan tetap menyisiri rambut tebalnya dan sesekali aku selipkan rambut ditelinganya. Dia mulai merasa risih dan nervous pada saat yang sama. Persis seperti ibuku yang tua itu. Akhirnya dia membiarkan aku menyisiri rambutnya.
“Rambut kamu bagus, pakai shampoo apa?”
“Apa?!”
“Shampoo?”
“Aku ngga tahu, dibelikan mama.”
“Pintar juga ya si mama-mama itu, Rasa Prem?”
“Apa?”
“Shampoonya…”
“I dunno, pokoknya yang warna ijo.”
“Oh, aku tahu, yang didepannya ada gambar cewek mirip si papa-papa itu, ya?”
Dia tertawa, tawanya renyah dan kencang. Tulus.
Aku suka dengan percakapan-percakapan bodoh yang tidak penting, percakapan basa-basi yang kelihatannya tak berarti tapi kadang selalu diingat bila berpisah, sangat bermakna dihati, hal ini bisa membuat aku merasa lebih manusiawi.
“You know what, Luk? Kamu itu kakak tergila didunia.” Kiara berkata sambil sesekali menyelipkan tawanya. Aku ingin mencium tawa itu.
“Heh, siapa bilang aku kakak kamu? Tanyakan saja sama mama-mama yang suka bolak balik ke kamarmu ini. Aku bukan kakakmu, aku anaknya pasangan yang berinisial JC & DS yang istrinya berselingkuh dengan BG. Sebenarnya itu yang ingin aku omongin sama kamu, aku baru menemukan surat kelahiranku di brangkas mama-mama itu.” Sambil aku keluarkan sebuah kertas dari saku celanaku dan aku berikan padanya. Ia mengambilnya dengan muka tak percaya.
“You must be kidding, right? Kamu temukan di brangkas? Kenapa kamu membongkar brangkas mama?”
Adik seksiku yang naif.
“Karena aku ingin tahu yang sebenarnya, waktu itu sekitar dua tahun yang lalu, aku pernah melihat seorang bapak dan ibu yang mirip denganku dan bilang kalau aku sebenarnya adalah anak mereka. Aku waktu itu tidak mengerti, tapi sejak saat itu aku ingin mengetahui identitasku yang sebenarnya.”
“You Liar!”
“Terserah, Suit yourself.”
“Kamu sudah tanyakan ke mama dan papa?”
“Orang-orang itu kan belum pulang dari luar negeri?”
“Mereka pulang hari ini, You will ask ‘em won’t ya?”
“Yeah…”
Aku masih menyisiri rambutnya dan sesekali menciuminya. Tanganku menjalar pelan kearah kancing piyamanya, fumbling with the buttons on her blouse, I finally just ripped it open. I fondled her breast out of her bra and rubbed ‘em, she threw her head back and close her eyes. I nibbled and occasionally suck..ed…zzzhhhmmffhhh(hanya khayalanku).
Aku kaget dengan gerakannya. Tiba-tiba dia bersender kebelakang tepat dibahuku.
“Seandainya kamu bukan kakakku, bukan berarti kamu boleh mencium aku seperti kemarin lagi!” sergahnya, dengan muka memerah seperti kepiting rebus dan cepat-cepat bangun.
“I mean,…aku….lupakan saja!”
“Memangnya kenapa sih? Kamu selalu ngebahas itu terus?”
“Tidak, aku cuma memperingati kamu, jangan kurang ajar lagi seperti itu!”
“D’ya Like it,don’t ya?”
“What?!! Hell….NO!!”
“Iya”
“Tidak!”
“Iya”
“Tidak”
“Terserah…”
“Stop memainkan rambutku dan keluar dari sini!” Suaranya sedikit keras, aku tidak suka mendengarnya.
Aku hanya memandanginya dari kaca beberapa saat, aku mencium lehernya sedikit dan aku beranjak bangun. Tiba-tiba Ia bangun juga dan berteriak.”You are abnormal! Freaks! Pervert! Orang aneh, pantesan ngga ada cewek yang mau keluar sama kamu! Orang gilaaaa! Jijik!”
Aku terpaku menatapnya dan diam. Aku belum pernah melihat dia sehisteris itu, aku sering dimaki orang seperti itu bahkan lebih parah, tapi bukan dari dia. Dia selalu hormat padaku dan itu menyakitkan.
Aku menghampirinya, tiba-tiba Ia memukuli aku seperti kesetanan. Aku berusaha menenangkannya dan juga membela diriku. Sampai akhirnya aku menariknya ke pojokan kamarnya. Dia masih histeris, dia menggigit tanganku, menengang dan menamparku. Sampai akhirnya aku diam dengan posisi seperti itu beberapa saat. Aku tekan badanku dengannya, aku bisa merasakan kelembutan dan detak jantungnya atau jantungku?
Kami mengatur nafas yang memburu, jarak muka kami hanya sepuluh senti. Wajah Kiara memerah, bibir serta cuping hidungnya bergetar seperti daun ditiup angin, seperti bulu burung yang sedang berjemur dan bersenang-senang di sinar matahari. Kekerasan genggaman tangannya mulai melemah sebagai gantinya dia perlahan mulai menggesekan pinggulnya dengan pinggulku. Enak. Aku mulai menciumi mata, hidung, bibir dan dagunya. Aku gemetar. Dia berkata pelan. Suaranya berdesis.
“Do you want me?”
“Iya.”
“So badly?”
“Iya.”
“What you gonna do with me?”
“I’ll fuck you gently.”
“With the kiss as well?”
“With the kiss as well.”
“What next, then?”
“I’ll give you my weakness.”
“What’s that?”
“Hatiku.”
“What else?”
“I said I’ll give you my heart, it means my soul, my breath, my logical mind and my dick, stupid…”
“You supposed to be my brother!”
“Aku tahu.”
“Why me?”
“Kenapa tidak? Kita tidak pernah meminta menjadi adik-kakak, bukan?”
“But, you are very attractive! There’s a lot of girl you can ask for a date?!”
“Lalu? Kenapa kalau aku mau kamu? Karena kamu adikku?Well….Fuck you.”
Aku melepaskannya dan berbalik meninggalkannya. Dia terdiam kaget tak percaya dan mengejarku, menarik lenganku.
“What are you doin’? Why don’t you kiss me?”, Kiara berteriak.
“Aku lagi gak kepingin, aja.”, aku sangat kaget dengan teriakannya.
“Luka, Ciumlah aku…”, suaranya merendah, serak dan nyaris tanpa malu.
“Tidak, terima kasih. Kamu adikku, kan?”
“Don’t you ever dare walking away from me…” Kiara menangis.
Take a courage, my love….can you endure such pain at any hand but me?

Aku keluar kamarnya dan menutup pintu perlahan lalu masuk ke kamarku sendiri. Aku tidak suka kemunafikan. Bila aku mengatakan sesungguhnya, dia harus mempercayai aku. Aku benar-benar menginginkan dan mencintainya. Just take it or go away. Biarlah dia telan sendiri kekesalannya padaku, itu kesalahannya. Malam harinya aku mendengar pintu kamarku diketuk dan kudengar suaranya. Tapi aku tetap ditempat tidurku sambil memandangi pintu. I feel numb. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, hatiku dingin. Aku sudah tak bernafsu dan dia tidak membuatku tertarik lagi, lagipula dia adikku, bukan?
Keesokan paginya, dia menangis kepada papa-mama itu dan merengek meminta disekolahkan diluar negeri. Ia berangkat hari itu juga dengan penerbangan terakhir. Kiara tidak sudi melihatku, Aku cukup sadar diri. Aku menyelipkan surat kedalam tasnya yang berisi basa-basi tentang semuanya, termasuk tentang shampoo berbau prem itu. Just being nice aku selipkan juga coklat kesukaannya dan foto refleksi dari kaca yang aku ambil sendiri ketika aku bermasturbasi memandangi fotonya. Dia pasti muntah melihatnya, terserah. Aku hanya mencoba menjadi aku. Sedangkan orang tuaku hanya tersenyum bodoh melepas kepergian wanitaku. That’s killing me.

Aku tidak perduli, apabila seandainya aku bukan anak mereka. Tapi aku memang berkeyakinan demikian. Aku anak hasil perselingkuhan dari BG dan DS yang istrinya JC. ya aku adalah anak Tuhan. Aku anak haram dari Buddha Gautama dan Dewi Sri yang istrinya Jesus Christ. Aku suka dengan tuhan-tuhan, maksudku semua tuhan. Allah SWT, Jesus Christ, Buddha Gautama, Dewa Wishnu-Shiva, Dewi Kwan-im, Shinto, Lau-tze, Dalai Lama dan tuhan-tuhan lain yang kurang populer. Mereka mulia dan agung. Mereka selalu mengajarkan hal yang baik-baik dan nasehat-nasehat yang berguna, bahkan akupun ikut menunggu datangnya Messiah layaknya kepercayaan orang Yahudi. Aku mengagumi Al Qur’an karena keoriginalan ayat-ayatnya, akupun membenarkan Eksaqurazo, keluar dari pasar dosa menurut Perjanjian Baru. Akupun menyetujui adanya Dharma dan Adharma di ajaran Hindu. Semuanya mempunyai tujuan dan mengajarkan hal yang sama: agar manusia menjadi mahluk yang paling mulia seperti kodratnya dan mendapatkan kedamaian antara manusia dan penciptanya. Simpel bukan? biarkan manusia memilih jalan yang berbeda untuk tujuan yang sama. Mereka pribadi yang bebas, bukan?

Aku tidak bohong pada Kiara, banyak tuhan mengunjungi aku dalam mimpi yang indah. Mereka memberiku masukan-masukan yang baik dan manis, walaupun ada juga yang hanya menampakan wajah, mungkin mereka malu dan hanya ingin menyapa,”Hail! Ini kami tuhan. Kami benar-benar ada lho!”. Aku bukan seorang atheist juga bukan penganut animisme. Aku percaya akan tuhan, aku sayang semua tuhan. Hanya aku belum tahu siapa yang paling sayang denganku. That’s killing me.

Aku kuliah di uni murah meriah dan mengambil jurusan sinematografi. Aku suka sekali film. Dengan film aku bisa memilih karakter dan bisa menjadi seorang idealis. Aku juga kerja di bengkel kecil-kecilan kepunyaan teman kuliahku. Bengkel motor tua, kecil tapi lumayan laku dan jadi tempat tongkrongan anak-anak motor. Aku kost di dekat kampus dengan kamar sebesar 3×4 meter, ada meja kecil, tempat tidur, TV 14 inch, dispenser manual, foto Kiara dan jam weker juga kipas angin mini. Cukup nyaman untuk seorang aku. Aku bermulut besar, kan? aku hanya sekali dalam tiga bulan pulang ke rumah kecuali ada Kiara, mungkin bisa tiap minggu. Aku senang naik motor BSA A7 500cc buatan Inggris tahun 50 yang kubeli dari temanku. Aku suka menulis puisi atau script, whatever….pokoknya sebuah cerita tentang isi hati dan kepalaku yang menjelang pecah atau tokoh-tokoh karakter yang suka masuk kedalam khayalanku atau sering aku mainkan sendiri bila ada waktu. Kadang ideku datang dari mana saja, ada satu cerita muncul setelah aku melihat seorang pemulung pulang dengan gerobak kosong. Rasanya aku sudah membuat sebuah cerita masterpiece, karakternya kuat, plot ceritanya aktual dan konfliknya anti klimaks. aku telah membuat cerita yang sangat bagus. Damn….I’m Genius! Aku hanya memperbolehkan satu orang saja untuk membacanya, Anushapati. Teman kostku yang jarang bermanis-manis, he’s totally anti social and a beautiful scum. Sesuai dengan namanya Ia memang bintang yang terang, berbadan tegap dan otak yang luar biasa kritis. Kamu tidak akan menemukan kebohongan even white lies didalam omongan dan pikirannya. Baik tetapi selalu sinis dan sarcastic. Ia menerobos pintu kamarku dan langsung berbaring dikasur bututku, memperhatikanku beberapa saat dan menyalakan sebatang rokok. Aku memperhatikan cara ia menghisap dan memegang rokoknya, lembut dan berlahan. Akhirnya dia membuka mulut.
“Sudah.”
Aku berusaha menyembunyikan rasa antusiasku, aku beranjak duduk di dekatnya, menyalakan rokok dan berujar,”Lalu..?” aku menatapnya. Dia diam beberapa saat sambil menghisap rokoknya dengan hisapan panjang. Aku ingin membunuhnya.
“Apanya?”
Aku mengambil gunting rumput di bawah lemari baju dan dengan kekuatan penuh, kuhunjamkan tikamanku kearah kepalanya sebanyak empat kali, darah muncrat seperti air mancur dari kepalanya dan dia kesakitan….an…zzzzhhhh
mmmffhh…(hanya khayalanku)
“Ya…ceritanya.” Jawabku tenang.
“Biasa.”
“Maksudmu?”
“Ceritanya terlalu di dramatisir, dibuat-buat dan shallow. Karakternya sudah menarik tapi terlalu karakter khayalan, realitasnya kurang. Settingnya terlalu planet dan plot ceritanya terlalu tegang tanpa jeda untuk mengistirahatkan mata, dan kau tahu apa? Aku membacanya tiga kali dan I still have no idea what the story is.”
“Tapi…”
“Tapi idemu orisinil, belum ada penulis yang berani konfront seperti itu. Dari segi pesan juga ada walaupun dari karakter yang paling jahat sekalipun, bahasamu bagus dan puitis, pada saat kakek itu berharap di pinggir taman aku sempat tersentuh dan terbawa dalam buku murahanmu itu. Sudah ah, capek.” Dia bangkit dan mematikan rokoknya di asbak dan jalan terhuyung-hunyung meninggalkan kamarku, “Buat saja cerita baru yang lebih bisa diterima masyarakat dan akal sehat, kadang-kadang yang klise itu yang orang bilang bagus!” ujarnya sambil berlalu membanting pintu kamarku.
“Bloody Fuckin Cynic!!!!” Aku memakinya seiring dia pergi, That’s what I love about Anushapati. Aku tidak tersinggung apalagi marah. Anushapati semacam bara dalam otakku dan aku membutuhkan rasa itu selama aku hidup. Semoga tuhan tidak bosan memainkan aku dalam lakonnya walaupun peranku tak berarti.

Tentang akuluka

I'm a whore
Sayatan ini tersimpan pada Cerita. Simpan di permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>