Waktu sudah menunjukan jam 3.20 sore, aku lari secepat mungkin menuju tempat itu aku sangat takut terlambat. Walaupun toko buku bekas itu tidak terlalu jauh dari tempat kosku, tapi aku sangat takut terlambat. Dengan nafas terengah-engah, aku mencapai pintu toko itu dan langsung melihat ke pojok kiri ruangan. Di bawah buku-buku tebal tua dan tulisan bagian “Sejarah”, dia masih ada, seperti biasa, duduk di kursi kecil yang ada disitu, sendiri dan melahap buku-buku lama yang sama sekali jarang diminati oleh pengunjung toko buku itu. Aku mengatur nafas dan mulai berjalan pelan menghampiri kearahnya, tepat disebelahnya aku pura-pura mencari buku yang ada diatas kepalanya. Dia sama sekali tidak bergerak ke pinggir atau merasa risih dengan kehadiranku, Dia begitu tenggelam dengan bacaannya, atau tidak bergerak, wajahnya tanpa ekspresi kecuali matanya. Matanya terlihat begitu tertarik dengan bacaan itu, sehingga terlihat berbinar-binar bahkan berkilat-kilat, dia sangat terbawa. Aku duduk tidak jauh darinya, sebenarnya tepat di seberangnya, sehingga aku dapat melihat jelas mata yang ditutup kacamata itu hidup terus menerus. Hal ini sudah sering aku lakukan, kadang aku sengaja menyenggol lengannya dan mengatakan maaf tetapi dia tidak pernah melihat kearah mukaku, dia akan hanya melihat lenganku sedikit, bergerak sedikit dan kembali ke dunianya. Kadang aku sengaja menjatuhkan bukunya, tapi dia hanya memungutnya kembali dan langsung pergi tanpa menghiraukan aku yang mencoba menolongnya dan bicara padanya. Sepertinya dia tidak mau mengadakan kontak sama sekali, tidak hanya denganku tapi dengan semua orang. Aku mengira dia bisu-tuli, seandainya dia tidak bicara dengan pemilik toko yang baik hati itu.
Setiap kali aku melihat wajahnya, aku merasa terheran-heran sekaligus kagum. Dia tidak cantik. Mukanya tirus dan selalu pucat, hidungnya bengkok dengan kemancungan yang lurus seperti hidung yahudi, bibirnya berwarna pink pucat dan selalu terkatup rapat, rambutnya bertekstur kaku dan dipangkas menyerupai orang sakit kanker, tetapi matanya bisa membuat aku tertegun lama. Matanya besar bersinar dengan bentuk mata menurun sayu, mata itu seperti menyimpan sejuta kisah sedih di kedalaman sunyi yang panjang. Mata itu begitu ekspresif, sebagaimanapun dia bersikap dingin dan kaku tapi tetap tertangkap jelas olehku apa yang sedang dirasakan dan dipikirkannya. Seperti saat ini, aku jelas-jelas menatap matanya sambil membolak-balik buku yang aku ambil sekenanya. Kali ini matanya menyiratkan kemarahan, seperti mata kucing kecil yang terluka. Matanya berkilat-kilat dan ada sedikit tekukan di dahinya yang menimbulkan sedikit ekspresi di wajahnya yang beku. Aku menebak mungkin dia telah terjun menjadi tokoh yang disakiti seperti yang ada didalam buku yang dibacanya. Tiba-tiba, keajaiban muncul. Dia menengadahkan wajahnya dan matanya langsung menatap mataku. Tanpa ampun, tanpa kasihan matanya terus menatap tajam ke arahku. Mata kami bertemu lebih dari waktu yang sewajarnya, aku tidak tahan dan membuang pandang lebih dulu. Aku berpura-pura mencari sesuatu didalam tas. Dia menghampiriku dan berjongkok tepat didepanku dan berkata,”Apa yang kamu cari?”
Aku terperanjat dan tiba-tiba menjadi gugup, suaranya pelan dan agak tertahan. Aku melihatnya dan mencoba tersenyum.
“Aku, hmm…mencari pensil.” jawabku gugup.
“Maksudku, apa yang kamu cari didalam mataku….”, ujarnya lagi.
Aku sangat kaget, tapi akhirnya aku jawab,”Mencari cerita hari ini, karena setiap hari….matamu bercerita yang berbeda-beda.”
“Aku tidak perduli, jangan pernah lagi memandangku seperti aku ini monyet percobaanmu dan jangan pernah menggangguku lagi!” Dia berdiri, mengambil tas besarnya dan setengah berlari menuju ke arah pintu keluar. Akupun berdiri dan mengejarnya, terburu-buru menjajari langkahnya. Ternyata dia sangat mungil, tingginya tidak mencapai pundakku.
“Aku tidak pernah menganggumu dan kamu tidak pernah menjadi monyet percobaanku.” Sanggahku sembari menjajari langkahnya. Dia mempercepat langkahnya sambil menunduk memandangi ujung sepatunya.
“Tolong jangan jalan cepat-cepat, aku tidak bermaksud jahat, hanya ingin berteman.” Ujarku lagi, How Cliche.
Tiba-tiba, aku membalikan badannya, menengadahkan mukanya juga membuang kacamatanya. Kusentuh matanya dengan kedua tanganku membingkai wajahnya yang kecil, kuhapus air matanya dan kubiarkan dia menangis berlama-lama dalam dekapanku sambil aku berkata,”Kamu dapat menumpahkannya semua kepadaku, tidak usah malu…..zzzzhhhmmffhhh… (hanya khayalanku).
Dia berhenti berjalan, memandangiku dingin dan berkata,”Jangan ikuti aku, aku akan berteriak maling!” Fuck….That’s killing me.
“Silahkan, maling tidak mencuri mata..,” ujarku datar.
“Baik, katakan apa maumu setelah itu aku mohon, jauhi aku.”
“Hmmm, namaku Luka dan aku sejenis denganmu…orang-orang aneh. Mauku banyak! Aku mau namamu, aku mau ke rumahmu, aku mau tanya kenapa kamu kelihatan sedih?”
Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, entah artinya apa. Sambil cepat-cepat meneruskan langkahnya. Aku tetap membuntutinya. Tiba-tiba dia berbalik sambil berkata,”Namaku Aura, dan gue bukan orang aneh kayak elo…Freak!”
“Terima kasih.” Jawabku tulus, sambil menghentikan langkah. Aku menyukai jawaban yang tegas dan lugas itu. Lalu dia berjalan terburu-buru. Badannya Yang kecil terbungkus jaket kulit hitam yang terlihat kebesaran dan lama-lama bayangannya menghilang bersamaan dengan turunnya petang dan hujan rintik-rintik.
Kita akan bertemu lagi Aura….dan aku akan menjadi teman pertamamu…
Sejak saat itu, aku selalu menunggunya ditempat dan waktu yang sama, tapi dia tidak pernah menampakkan diri. Hilang begitu saja. Sampai pada suatu hari, aku melihat Anushapati lain dari biasanya. Dia terlihat bahagia dan sedikit normal. Yang lebih mengherankan dia mulai mengurus rambut dreadlocknya sehingga terlihat lebih beradab.
“Nyet, lo tahu bahasa latinnya bebas dari dosa?” dia bertanya, sambil menggigit pisang, buah kesukaannya.
“Innoceninno?”
“Bukan.”
“Angelique?”
“Nope.”
“Apaan? Mother Theresa?”
“Sakit jiwa, dasar.”
“Terus? Long Tai Po?”
“Paan, tuh?”
“Nenek tua, bahasa tiongkok.”
“Bebas dari dosa, bahasa latinnya LUTERO. Sounds smart, eh?”
“Whatever…”, jawabku sambil merokok.
“L U T E R O, keren banget ya?” Dia menyalakan api untuku.
“Bebas dari dosa bisa disebut juga tak berdosa, kan?”
“Kali”, ujarku sekenanya.
“Dia memang malaikat kecil yang tak berdosa….”
“Siapa sih?” tanyaku mulai penasaran.
“Ada cewek, dari sikap, muka sampe nama unusual banget. Lo tau gak, cewek kecil yang suka pake jaket kulit kebesaran, pake kacamata dan selalu nongkrong baca buku di toko buku bekas?”
“Nggak juga, gue gak pernah merhatiin disitu.” BLARR! hatiku berdetak sekencang-kencangnya, aku tahu dia membicarakan Aura.
“Tapi lo pasti notice dia, mukanya pucat rambutnya cepak?”
“Wow, man. Have no idea.” Jawabku bohong sambil menarik hisapan terakhir rokokku. Aku belum pernah merasa sekhawatir ini.
-=-=-=-=-=-
Di luar hujan, titik-titik air berlomba turun menyentuh tanah dan ada yang perlahan merayap melalui jendela kamarku. Hujan. Deras dan lebat. LEBAT. Siapa yang menemukan kata lebat? Kata lebat bisa diartikan banyak. artinya sendiri banyak. Hujan LEBAT. Rambut LEBAT. berdaun LEBAT. Hebat!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. ini yag paling aku tidak sukai, interupsi dari hal yang tidak penting. Fuck! I mean this is my comfortable silence time! Biasanya aku tidak mentolerir berbagai macam gangguan, berhubung aku lagi sedih, aku membutuhkan interaksi sosial. Walau hanya sedikit. Maka aku membuka pintu, dan aku lihat dia berdiri disana, basah dan kedinginan, tetapi mukanya memancarkan kebahagiaan yang baru saa terjadi atau yang akan terjadi setidaknya.
“Hai…benar disini rumah Anushapati?” sapanya ramah.
“I…i..iya, kamu siapa?” Jawabku kaku dan terbata-bata, sepertinya dia lupa dengan aku.
“Oh, iya…aku Aura. Aura Lutero.” ujarnya tersipu dan menyodorkan tangannya. Aku melihat tangan itu dan meletakkan tanganku kedalam telapak tangannya yang berwarna pucat. Tangan kecil yang dingin.
“Aku Luka,” jawabku. Berharap dia ingat padaku. Dia agak menunduk dan tertawa sedikit tertahan. Pertama kalinya si wajah dingin itu tertawa, kepadaku pula!
“Waah…nama panjangmu pasti Luka hatiku, ya? Kenal sama lecet dan memar dong?” Jawabnya terkikik.
Ternyata dia benar-benar lupa denganku, eh…ngajak bercanda lagi.
“Nggak, cuma teman baik sama borok!” Fuck….That’s killing me.
Dia tertawa lepas, renyah dan kencang. Seperti tertawanya Kiara, wanitaku.
“Kau mau menunggu Anushapati, titip pesan atau mentertawakan namaku didepan pintu berjam-jam?”, ujarku.
Dia agak tersentak, lalu sambil membetulkan kacamata dia menjawab dengan serius,”Maaf, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja namamu unik dan aku lagi senang, itu saja.”
“It’s okay, memang namaku sering dijadikan joke sama orang-orang. Kamu mau menunggu Anushapati? Biasanya jam limaan dia baru pulang.” jawabku sambil tersenyum ramah. Just being polite.
“Ok.” Jawabnya singkat, lalu dia menerobos masuk melewatiku. Kinda Psycho, pikirku.
Rumah kontrakan kami agak kecil setelah pintu depan ada sedikit ruangan yang biasa kami bilang relax room. Disitu hanya ada TV 20″, lebih besar sedikit daripada yang dikamarku, rak buku setinggi satu meter, kulkas kecil, karpet tebal buatan turki hadiah dari Amare (hanya itu yang membuat ruangan ini terasa “mahal”) berikut bantal-bantalnya. Disebelah kiri ruangan terdapat kebun kecil kepunyaanku, hanya kaca yang membatasi ruangan matahari langsung itu.
Ada pohon kaktus, anggrek putih hingga bonsai pohon karet kecil. Terkadang Anushapati menanam pohon kesayangannya, marijuana. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak mau pohon-pohon yang lain terintimidasi, semua pohon spesial untukku. Disebelahnya kami juga memasang semacam air mengalir yang jatuh di dalam kolam ikan mini kepunyaan Anushapati, kolam ini hanya terdapat satu jenis ikan, ikan Betok. kamu tahu ikan hitam dengan warna-warni orange di badannya dan biru neon di kepalanya. pemangsa ikan-ikan kecil. Diam dan sadis seperti piranha. Piranha wanna be.
Relax room inilah yang sering kami huni. Sebelah kiri dari ruangan ini adalah kamarku, sebelah kanan kamarnya Anushapati. Dibelakang ruangan ini dapur dan kamar mandi. Disebelah kamar mandi, ruang cuci-jemur. Kami menyewa rumah ini sudah hampir 3 tahun, pemiliknya ibu-ibu bertubuh besar dan berperilaku seperti Hyena. Sejenis anjing hutan yang hidup di Afrika berkarakter sadis dan suka menyerang dari belakang dan licik. Suka mencuri hasil buruan binatang lain.
Aura duduk diatas karpet itu, meraih satu bantal lalu mengambil remote TV dan menyalakannya. Luar biasa, dia seperti terbiasa dengan situasi seperti ini. Sikapnya normal dan santai terhadap orang baru dan suasana baru, aku duduk diseberangnya.
“Anusha pergi kemana memangnya, kamu tahu?” dia membuka percakapan.
“Kerja, dia pergi jam delapan dan pulang sekitar jam limaan. Kamu kenal dimana sama Anusha?”
“Di toko buku, waktu itu aku mencari buku lama tentang Ayurveda, tiba-tiba dia menyodorkan buku itu tepat didepan hidungku.”
No wonder, pikirku. Anushapati memakai cara yang sopan untuk kenal denganmu. Tapi mengapa dia tidak mengingatku sedikit saja, sebegitu besarkah daya tarik Anushapati, sampai kucing kecil ini lupa denganku? Dari wajah aku jauh diatas Anushapati, dari segi intelegensi kami sama levelnya. Aku jelas lebih atraktif dengan sikapku yang dingin dan psycho, menurut wanita-wanita cantik tapi berotak minim itu. Mentalku beku sedang Anushapati cair, mungkin badanku tidak seatletis Anusha, Ya…ya…pasti itu.
Tiba-tiba aku berdiri dan menariknya ikut berdiri, lalu kugoncang-goncangkan tubuhnya yang kecil, sambil berteriak,”Apa kelebihan Anushapati sehingga kau lupa denganku?! Apa yang membuatmu berfikir dia lebih menarik dari aku?!!! Ayoo….Jawab!!”…..zzzhhhmmffhhh (hanya khayalanku).
“Tadi siapa namamu?” tanyaku sok lupa.
“Aura Lutero.” Jawabnya sambil tersenyum. Harus kuakui, manis.
“Antik, kamu keturunan latin atau indian?” tanyaku antusias.
“Tidak, ayah ibuku orang Kalimantan, cuma memang kakekku orang Jews.”
“Jews? Yahudi maksudmu?”
“Ya, gen terpintar didunia.”
“Iya, gen terpilih tapi terisolasi.” Jawabku tenang.
Jawabanku ternyata membuatnya tercengang. Reaksinya keras. Aura berdiri menunjuk hidungku, sambil berteriak lantang,”Memangnya siapa lo?! Memang kita terisolasi, tapi kita bukan bangsa yag dikutuk! Itu kan maksud omongan lo?! Kita cuma butuh tempat untuk hidup dan hak yang sama diakui semua manusia! Anjing! Rasis lo!”
“Maaf, maksudku..e..r.r.rr bukan begitu,” jawabku gugup.
Aura mendekatiku dan mukanya tepat didepan mukaku, lalu berkata,”Jangan sok bicara hal itu lagi, aku muak!” Bisiknya dengan suara yang rendah mengerikan dan sedikit tersendat. Lalu dia duduk kembali dan memalingkan mukanya ke arah taman tak bergerak dan tak bersuara. Setelah agak lama, dengan ragu-ragu aku berkata,”Dengar…aku benar-benar minta maaf…”
“Hey, kamu punya sesuatu yang bisa dimakan, nggak?” tiba-tiba wajahnya kembali ceria dan suaranya kembali normal, lalu dia berdiri dan berjalan ke arah dapur.
“Ada tuh di kulkas, what you see is what you get.” Jawabku lega, orang ini aneh tapi yang penting dia tidak marah lagi.
“And…I see spinach omelette with jerkies, how is that?”
“Hmm….Sounds mouth watering.”
“Okay, aku masakin buat bertiga ya, tapi bantuin dong!” teriaknya dari dapur.
“Iya, iya…..cerewet!”, jawabku sambil berjalan menyusulnya ke dapur lalu kami berdua terbahak-bahak dan mulai memasak.
Aku yakin cepat atau lambat dia akan menjadi orang terdekatku, someday…
Kami mendengar pintu depan dibuka orang, lalu kami dengar suara Anushapati berteriak dari relax room,”Luka! dimana lo? Tadi ada yang dateng ngga?”
“Kayaknya ngga ada” jawabku dari dapur. Kudengar langkah kakinya menghampiri dapur.
“Masak apaan nih? Baunya enak bang…..e..t.” kata-katanya terputus saat melihat Aura memasak disebelahku.
“Eh, Aura, kok ada disini, masak pula?” tanyanya malu-malu. dengan muka tololnya itu.
“Iya, abisnya lapar nungguin kamu, sekalian aja aku masak buat kita bertiga, ya nggak, Luk?”, jawabnya manis.
“Yoi, sini lo, Nyet! Daripada bengong mendingan bantuin masak” kataku sambil mengangguk.
“Sir, Yes, Sir! teriaknya ala tentara amerika sambil berjalan ke arahku lalu berkata,”Anjing lo, Luk! ngebohongin gue lo, katanya gak ada yang dateng, eh malah dimasakin,” gusar Anusha meninju bahuku.
Lalu berakhirlah hari itu dengan memasak, makan malam, saling bercerita dan bercanda bersama semalaman. Kebekuan itu cair sudah.
Aku bahagia…
Anushapati bahagia…
Aura bahagia…
Kita bahagia…
-=-=-=-
Kuambil foto Kiara, kupandangi sepuasnya. Seperti apa dia sekarang? Dua tahun berlalu semenjak dia pergi, waktu berlalu begitu cepat, tanpa memberi kesempatan untukku mengatur perasaanku yang masih tergetar bila mendengar nama tersebut. Bila mengingat kembali bau prem yang berasal dari tubuhnya, bila mengkhayal rasa nikmat didalam pelukannya.
Aku kangen.
Kutaruh kembali foto itu ke tempat asalnya, disebelah aku lihat foto kita bertiga. Aku, Anushapati dan Aura. begitu juga dengan kami sudah dua tahun kami melewati dengan persahabatan yang manis, kedekata fisikal dan mental yang sedemikian intim sampai kadang aku tidak mengerti ini pikiran Aura atau pikiranku, ini kelakuan Anushapati atau aku, ini reaksi Aura atau Anushapati, aku bertiga atau sendiri.
Tidak jelas.
Blur.
Menyimpang.
Kadang.
Hilang.
Selama hampir dua tahun itulah aku memendam sakit dan ketakutan. Takut aku tidak bisa lagi berura-pura senang dengan kebahagiaan mereka. Aku tidak akan perduli lagi dengan masalah mereka dan berhenti menawarkan bantuanku. Aku tidak lagi tahan dengan rasa empati mereka terhadapku dan menunjukan bahwa mereka benar-benar mengerti diriku. Apa yang mereka lakukan berdua akan membuat aku semakin menyadari aku menginginkan Aura dan aku menyayangi Anushapati. Kadang aku menikmati luka yang disebabkan mereka berdua, ketika mereka mempunyai lagu favorit bersama, ketika mereka mengenalkan diri sebagai pasangan, ketika aku melihat bantal mereka yang telah menjadi satu dan ketika mereka saling berbisik….saling melempar senyum…menyentuh jemari…tertawa….berpelukan…berciuman…dan bersetubuh. Aura tidak mungkin melihat kedalam mataku seperti cara dia melihat kedalam mata Anushapati. Aku tahu hanya ada cinta Anushapati sepanjang hidupnya.
Aku terlalu mencintai Aura, sehingga takut untuk mencobanya. Semakin hari kurasakan aku tidak hanya mencintainya tapi memujanya. Dia sudah merupakan obsesi hidupku. Hanya dia yang mengerti. Hanya dia yang memaklumi aku, membuatku merasa layak untuk dicintai. Dia membuatku merasa bahwa aku berhak berdiri diatas kakiku sendiri. Aku yang menemukannya lebih dulu….Aku….bukan Anushapati. Kadang aku seperti merasa bahwa kita tiga orang yang sama-sama hidup dan mempelajari filsafat dalam sebuah ‘ménage a trois yang platonis’.(“ménage a trois” berasal dari bahasa perancis yang artinya hubungan seksual diantara tiga orang manusia dalam satu rumah, tetapi juga platonis yaitu hubungan murni spiritual tanpa hubungan badan. Jadi, kita bertiga akan melakukan hubungan intim spiritual. sesuatu yang hampir mustahil.)
Aku hafal cara dia makan, posisi tidur favoritnya bahkan sifat asli ibunya. Dia membenci buku filsafat terutama buku Zarathustra karya Frederich Nietzsche kepunyaanku, dia akan menggaruk hidung bila berbuat salah ataupun salah tingkah dan aku tahu favorit quote dari film favoritnya, “You name it, I know.”
Rasa yang aku punya untuk Aura lain rasanya dibanding rasaku pada Kiara. Rasa yang kupunya terhadap Aura; serius dan tidak manis, tidak berorientasi pada sex lebih pada rasa senasib menjadi orang-orang seperti kami dan itu berpengaruh besar pada juwa dan mentalku. Just put it this way. Bila kami menemukan seseorang yang keanehannya mengisi setiap relung keanehan kita, maka kita akan menyatu dengan mereka dan bergerak bersama kedalam keanehan yang memuaskan, and we call it LOVE. True Love.
Damn, sometimes Me the romantic fool itself.
Setiap ada kesempatan kita pergi bersama, aku selalu memfoto dia dengan alasan untuk portfolio atau apalah. Sekarang aku telah mempunyai 2382 lembar fotonya dengan berbagai ekspresi mukanya. Dengan kecerdasan yang memancar dimata beningnya. Mereka tidak pernah menyadari ini dan aku tak ingin semua orang tahu itu. Ya ada orang bilang;
“Kebanyakan dari kita paling membutuhkan cinta, saat kita sedang dalam keadaan paling tidak pantas untuk dicintai” that’s true, eventhough that’s fuckin killing me.
Karena hal ini juga aku akhirnya memutuskan untuk pindah rumah ke sebuah rumah kecil berkamar satu tidak jauh dari situ. Untuk menjaga hati dan perasaanku saja karena mereka sekarang tinggal bersama setelah Anushapati memutuskan mengajak Aura tinggal bersamanya. Walaupun mereka memaksa supaya aku tetap disana lebih baik aku mati saja.
Anushapati menyayangiku, dia mengandaikan sebagai ibuku. Dia memperhatikan moodku, studiku bahkan pola makanku. Aku juga menyayangi Anushapati seperti yang kukatakan sebelumnya. Dia merupakan bara dalam hidupku, aku tidak mungkin mengkhianatinya. Perlu kau ketahui, Anushapati tidak pernah tahu kisah-kisah romantisku. Yang dia tahu sudah hampir empat tahun sejak dia mengenalku. Aku tidak pernah pergi berkencan. Entah dari mana asalnya, mereka beranggapan kalau aku adalah seorang gay. That’s killing me.
Mereka terus merecoki kehidupan percintaanku, berusaha menjodohkanku dengan teman-teman mereka baik wanita dan laki-laki. Mereka gila kalau mengira aku bisa mencintai orang ‘biasa’. Definisi biasa menurutku bukan berwajah jelek atau berbadan tidak proporsional, bukan pula berotak udang. Tapi orang-orang yang tidak mempunyai warna sendiri, berusaha menjadi menyenangkan, cliché, tidak berkarakter. Cantik, langsing, cerdas tapi setiap aku bicara dengannya aku seperti terjebak dalam lobang tikus yang gelap, bau dan membosankan. lebih baik dia menyingkir sebelum aku permalukan. Itulah maka aku disebut kasar, aneh atau bitter. Aku sangat memakluminya. Agak sulit menemukan orang-orang seperti itu dan mereka tidak tahu kalau aku hanya mempunyai dua cinta. Dua cinta sejatiku; Kiara adikku dan Aura. Tidak ada cinta lain. Oh, tidak akan pernah ada…
Suatu malam kami berkumpul dirumah mereka untuk menonton film klasik kesukaan kami “Taxi Driver” yang diperankan De Niro sebagai Travis Bickle. Aku ingat disalah satu scene-nya De Niro menulis diary yang kami mendengarnya sebagai narasi;”All my life needed was a sense of some place to go. I don’t believe that one should devote himself to morbidself attention. I believe that someone should become a person lie other people.” Menggambarkan karakter Travis tidak puas dan kesepian dalam hidupnya, bahwa dia terjebak dalam ironi keadaan yang dia benci tapi harus dijalaninya. Persis seperti yang kurasakan sekarang ini.
Aku berdiri dipinggir jendela, memperhatikan keadaan diluar. Kepala Aura ada dalam pangkuan Anushapati, menonton film. Tiba-tiba Anusha memanggilku, “Hey, nyet! Ngapain lo disitu? You’ll miss the best part! Come on here, join us.”
“Yeah, get your butt over here, Luka!” Aura menambahkan.
“Gue bosen sama film itu. Ada yang laen, nggak?” Jawabku dengan malas melangkah kakiku ke sofa tempat mereka duduk dan menaruh pantatku disebelah Aura.
“Ada sih, Karate Kid, Ghost, sama sequel 9 and half weeks…” jawab Aura.
“Heh?” aku mengernyitkan kening kebingungan.
Aura tertawa terbahak-bahak begitu juga Anushapati.
“Muka lo lucu banget, nggak….Luka sayang. Nih gue bawain film-film action kesukaan lo.” Jawab Aura lagi. Aku mengambil tumpukan DVD itu, ada Reservoir Dogs, Jackie Brown, Pulp Fiction, From Dusk till Dawn dan beberapa film Harvey Keitel juga film-film Indie.
“Ah ini sih film lo semuanya. Tarantino Maniac!” Jawabku pada Aura. Aku tidak tahu mengapa dia suka banget filmnya Tarantino. Mungkin karena film itu sengaja dibuat mentah dan murahan sehingga menjadi menarik. Aku tidak tahu.
Lain lagi dengan Anushapati. Dia menyukai film klasik-historis-kolosal. Gone with the wind, A cat on a hot thin roof, The 10th Commandements, Rebel without a cause, Lawrence of Arabia bahkan film-film Lucy Garner, Shirley Temple dan John Wayne tertata rapi di rak kamarnya. Ada juga buku-buku biografi bintang film klasik seperti Rock Hudson, Paul Newman, James Dean, Clark Gable, Yul Brynner dll. Koleksi film the Godfather komplit tertata rapi sesuai urutan. Dia hanya menonton film The Godfather-nya bila sedang kacau. Menurutku itu seperti terapi untuk membangkitkan ego kelelakiannya. You know all the macho things, berkuasa, licik, banyak uang dan bercinta. Walaupun aku laki-laki aku tidak pernah habis pikir. Kamu boleh panggil aku banci, cemen, tai atau apapun itu. Maksudku, buat apa sih power? untuk menguasai segalanya? itukah modal untuk menjadi seseorang? usaha untuk menutupi kekuranganmu? Hanya agar dianggap tahu segalanya dan merasa bangga saat seseorang bertanya atau menjadi muridmu? atau untuk menaklukan semua vagina yang kamu temui? Okay, mungkin itu semua yang bisa didapatkan dengan power lalu apa arti hidup itu sendiri? Apa yang sudah kamu lakukan itu sudah menjadi pilihan orang banyak dan lebih berhasil. Kamu pikir kamu spesial? Well, kamu sangat bodoh.
Aku jadi ingat Kiara, koleksi filmnya sama seperti dirinya, terbuka dan apa adanya. Film-film romantis seperti; French Kiss, Kissing a fool, semua film Meg Ryan, The truth about cats and gogs, Sense and Sesibility dll.
Akhirnya kami memutar salah satu filmnya Aura yang berjudul “Hostel” bercerita tentang 2 sahabat yang terjebak didalam konspirasi pemuasan kekuasaan dengan menggunakan badan manusia lain sebagai obyek penderita. Seperti film Tarantino lainnya, selalu penuh darah dan mentah.
“You know what? I think it’s time for you to find a girlfriend immediately. So you not just sitting here and fancies about me!” Anusapati terkekeh.
“You turn me on, Shithead!” Jawabku kesal.
Mereka tertawa, aku juga. Tiba-tiba Aura mencium pipiku sambil berbisik,”Luka apa benar kamu gay? Kamu bisa mempercayaiku. Aku sayang padamu, aku juga ingin kamu juga bahagia.”
Aku hanya tertawa dan mereka meneruskan bicara dan bercanda. Sayang…hanya dalam hitungan detik ketika muka Aura berpaling, raut mukaku mengatakan yang sebenarnya.
-=-=-=-=-=-
Waktu menunjukan pukul 22.30 aku ingin keluar dari sini. Bosan melihat mereka bercanda sambil peluk cium dan segalanya. Aku butuh udara segar untuk menjernihkan otak yang penuh dengan rasa iri. Aku akhirnya pamitan pergi dengan alasan beli rokok. Tolol…
Aku berjalan di sepanjang trotoar. Sepi dan gelap. Bau tanah yang baru disembur air hujan menghunjam tonsil hidungku. Aku terduduk dipinggir trotoar. Melihat pemandangan didepanku. Orang-orang berjalan cepat dan berulang-ulang, ada beberapa pasangan melangkahi aku. Ada pasangan anak ABG yang sibuk menghilangkan kecanggungan dengan mengutak-atik ponsel mereka, tetapi mereka saling mencuri pandang dan bila ketahuan tersenyum sambil tersipu malu. Tak lama kemudian ada wanita bertubuh kurus jangkung berjalan rapat dengan pria besar berwajah seram dengan badan yang penuh tattoo. Sesekali mencium pria disampingnya yang tanpa ekspresi. Berselang beberapa menit lewat didepanku seorang pria kurus, kecil dan terlihat penyakitan menggandeng wanita muda cantik bak seorang dewi kahyangan. Mereka saling menatap seakan takut kehilangan pasangannya walau sedetik saja. Lucu.
No glamour couples, no perfect couples. So…what?
Setiap individu mempunyai kisah cinta sendiri-sendiri, walau seperti apapun belahan jiwamu, perapapun yang kamu korbankan, berapa sakit yang kamu tanggung, kamu akan ambil resikonya. Kamu tidak akan menyadari, merasakan, maupun melihatnya. Coz Love is a Bitch. Amores Perros.
Sampai pada ujung jalan aku melihat bioskop yang dulu menjadi tempat kami, Kiara dan aku menghabiskan waktu. Aku memasuki kafe yang terletak disebelah bioskop tersebut, biasanya sambil menunggu waktu menonton film, kami menghabiskan waktu sambil berbincang. Cappucino dan Fruit Punch ditemani beberapa batang rokok dan kebahagiaan. Aku memesan fruit punch dan cranberry chees cake, kesukaan Kiara. Aku tidak suka makanan manis. Maka aku hanya memandangi makanan dan minuman tersebut sambil membayangkan Kiara duduk diseberangku sambil bercerita dan sesekali melempar joke yang tidak lucu tapi membuatku tertawa bahagia. Lalu dia menyibakan rambutnya yang panjang dan indah menebarkan lagi bau prem itu. Harum. Suara musik mengalun dari speaker diatasku. Lagu ini. Ya…lagu ini, lagu yang biasa digumamkan Aura bila suasana hatinya sedih. Mengapa harus Aura lagi? Mengapa cintaku kuberikan kepada dua orang yang salah? Seperti yang disenandungkan oleh Beth Gibbons dilagunya, Only You.
We suffer everyday….what is it for?
These crimes of illusion are fooling us whole
And now I’m weary and I feel like I do
It’s only you…who can tell me apart
And its only you…Who can turn my wooden heart
Tanpa sadar punggung tanganku terasa basah. Aku melihat keatas, tak ada air disana. Aku menyentuh pipiku sendiri, dingin dan basah. Kapan terakhir aku menangis? Aku ingat ketika umur 16 tahun pertama kali ada seorang gadis menyatakan cinta padaku, aku menangis tersedu ketika dia mengatakan itu. Dia lari tunggang langgang ketakutan. Lucu.