Serenade of a broken cappucino cup

Chapter III

Matahari menerobos jendela kamarku. menjamahi celah-celah gordyn. Menjilati mataku yang terbuka seperempat. Kau tahu, aku sangat menyukainya. Setiap pagi, hanya hal ini yang membuktikan bahwa aku masih bernafas dan diberi hari baru, kesempatan baru dan harapan baru dari tuhan diatas sana. Diatas sana. Siapa yang membuat kesimpulan bahwa tuhan pasti diatas sana? Di langit, dibalik awan. Karena dia maha kuasa, maka dia selalu diatas? apa bedanya dengan man on top? Menurutku, karena maha kuasa dia ingin lebih dekat dengan mahluknya. Mungkin, sekarang dia lagi duduk di sofa bututku dan memperhatikan aku atau dia sedang menemani seorang ibu melahirkan di rumah sakit. Mungkin, dia sedang menyaksikan eksekusi mati seorang kriminal tersadis di dunia dan memaafkannya? Who knows?
Aku melihat rupaku di cermin, kucukur habis semua bulu yang tumbuh di wajahku, kecuali alisku. Hmm…not bad. Aku seorang bajingan dengan wajah malaikat, hidungku lancip dan kurus, mulutku tebal dengan bibir atas mencuat keatas, tulang pipiku tinggi dan agak menonjol, rambutku hitam sebahu selalu menutupi sebagian wajahku, alis tebalku yang hampir membentuk jembatan membingkai mata yang teduh tapi pesakitan, seperti mata seekor anjing sakit yang ketakutan. Yang membuat wajahku sedikit ‘galak’ adalah bekas luka di tengah alis yang membelah kedua kelopak mata kiriku sepanjang 6 cm kebawah. Yeah….sedikit garis maskulin. Sekarang aku melihat tubuhku, aku berdiri polos tanpa baju. Tinggiku hampir menggapai pintu, ya sekitar 178cm. Anusha 8 senti lebih tinggi dariku. Kulitku berwarna putih kemerahan, aku tidak akan pernah bisa hitam entah kenapa. Badanku terlihat kurus, walau dadaku tegap tetapi tidak berotot, aku tidak punya bulu dada, tetapi penuh dibagian kaki, lengan dan dibawah pusar. Tulang kakiku terlihat besar dan kotak. Aku berbalik, bokongku terlihat seperti dua bantal bulu yang dilapisi kulit babi, halus tanpa bulu. Sedikit menjijikan sebenarnya. Putingku berwarna merah kecoklatan. Aku persis seperti anak belasan tahun, tapi tidak! anak belasan mana mungkin punya ukuran kelamin sebesar aku. Aku memakai celana jeans favorit, jeans vintage 70an kepunyaan si papa-papa itu, lalu mengambil sweater hitam yang robek di jahitan dekat ketiaknya, aku memakai jam tangan besar yang kubeli dari hasil penjualan script pertama. Cincin raksasa perak yang menutupi huruf “U” di jari manisku, Kelingking “L”, jari tengah “K”, dan telunjuk “A”. Tattoo yang kubuat tepat saat umurku 17 tahun. Ku pakai sneaker hitam yang terlihat old school dan terakhir kusemprotkan parfum berbau ringan. Aku suka wewangian, karena bau akan mengingatkan kamu pada suatu hal, suatu masa atau suatu momen istimewa. Terakhir, aku membawa teropong kecil yang selalu kusimpan dengan baik. Sebelum berangkat sekali lagi kulihat diriku didalam kaca, dan berkata dalam hati, “Aku siap menemuinya….”

 

-=-=-=-=-

 

Suasana Bandara Soekarno-Hatta sedikit ramai, aku melihat ke monitor pengumuman.

SQ741 Melbourne 17:45 Arrived

 

Berarti dia sudah landing limabelas menit yang lalu. Siapa yang menjemputnya ya? Si papa-mama itu tidak mungkin, mereka juga lagi pergi entah kemana. Amare, tidak juga. Dia tadi minta tolong padaku untuk menjemput dia. Tiba-tiba seperti ada angin dibelakangku dan membisikan padaku untuk menoleh ke belakang, sejenak aku terkesiap. Aku melihat sosok yang sangat aku kenal, kurasakan semuanya berjalan lambat dan hening. Tanpa suara. Dia berjalan dalam gerakan slow motion dengan anggunnya, memakai celana palazzo dari bahan katun berwarna putih, dia juga memakai kaos pink yang terlihat kekecilan, sandal putih bertumit datar, tas ransel putih besar berada dipundaknya yang ditopang oeh bahu yang datar, tegap dan indah. Rambut itu dia biarkan tergerai, hampir mencapai garis pertengahan perutnya. Wajahnya merah dan mengkilat, Dia membuat orang-orang disekitarnya terlihat tua, gemuk dan jelek.
Aku masih terpana. AKu seperti sebuah kamera yang panning, tilting, zoom-in, zoom-out. Dadaku berdentum keras, tanganku bergetar gugup, suhu badanku meningkat, aku ingin pergi dari situ. Keluar dari keadaan ini tapi kakiku bagai terpatri disitu, seperti biasa bila panik datang aku akan menjadi orang yang angat pengecut. Aku berusaha menundukan kepalaku dan bersembunyi dibalik orang-orang yang lalu lalang, mencuri pandang agar tidak kelihatan. Dia membalukan mukanya dan setiap helai rambutnya bergerak dalam gerakan lambat, rambut-rambut itu bagai mempunyai jiwa, satu lambaian mengikuti yang lainnya, mereka seakan serempak menyapaku,”Halo Luka!”.
“Halo….sayang”, jawabku pelan, lalu aku mengikuti kemanapun lambaian rambut itu pergi. Dia memasuki sebuah coffee shop di bandara, aku seperti agen rahasia terbodoh yang pernah ada. Aku duduk sekitar 7 meter jauhnya dengan harapan bisa tetap melihat wajah cantiknya. Ternyata aku kurang beruntung karena aku hanya bisa melihat wajahnya dari samping kanan. Itupun sudah bagus. Tetap cantik. Kulihat dia memanggil pelayan, melihat menu sebentar dan bibirnya bergerak, aku bergumam,”Saya minta fruit punch dan cranberry cheese cake, o…iya, fruit punchnya diberi es batu yang banyak, ya.”
Pelayan itu memberi tahu sesuatu, lalu aku bergumam lagi,”Cheese cakenya nggak ada? OK…kalau gitu saya minta french fries, mayonaisenya yang banyak.”
Lalu pelayan itu pergi, dia meletakkan menu kemudian dia mencari sesuatu dalam tas ranselnya. Helaian rambutnya menyapaku lagi,”Luka….sini. Sapa aku.”
“Ti…ti…tidak….aku takut.” Jawabku perlahan.
“Takut sama siapa?”, tiba-tiba sebuah muka dengan mata besar kulihat disebelahku. Seorang wanita menyapaku dan tersenyum-senyum genit salah tingkah. Wajahnya yang ramah mengingatkan aku pada Dori, ikan penderita short term memory lost dalam film Finding Nemo. Bermata besar dan bergigi be….sar.
“Eh, A….apa?” tanyaku.
“Ah, nggak, mau pesan apa nih?” ujarnya masih dengan senyum centilnya.
“Oh, Cappucino saja, terima kasih.”
“Yang manis?” tanyanya lagi.
“Iya, yang manis banget kayak mbak.” Jawabku. That’s killing me.
“Ihhh, bisaaaaa aja si mas.” sahutnya malu-malu sambil melenggok ke arah bar. Aku tersenyum dan mengalihkan perhatianku ke dia lagi. Aku kaget, Oh sekarang dia sudah mulai merokok rupanya, rokoknya rokok wanita, Vogue menthol. Lain dengan Aura, rokoknya Marlboro merah softpack. Pesanannya datang, sekali lagi aku kaget. Sama sekali dia tidak memesan fruit punch, cheese cake atau kentang goreng, seperti kebiasaannya. Tapi secangkir black coffee dan brownies tanpa ice cream. Ada apa dengan dia? Dia tidak pernah suka kopi, cokelat ataupun rokok. Aku tahu itu. Lalu dia menelepon seseorang, aku menanti ponselku berbunyi dengan berdebar-debar. Apa yang harus aku katakan? Apa aku langsung memeluknya dari belakang? Atau aku harus pura-pura santai? Tapi kulihat dia sudah bicara dengan orang yang diteleponnya, dan kulihat ponselku tidak bergerak dan tidak berbunyi. Tidak ada yang meneleponku. Kulihat dia lagi, sekarang dia tertawa lepas sambil sesekali tersenyum dan jarinya menyentuh bibir cangkir kopi, rambutnya yang panjang setengah menutupi wajah halusnya. Dia tampak bahagia dan seperti orang jatuh cinta. Aku harap orang yang ditelepon itu datang kedepan mukaku, mendorongku, aku balas meninju hidungnya hingga berdarah lalu dia membalas memukul pelipis kaanku hingga darah segar mengalir deras, kulihat Kiara teriak dan balas memukul lelaki sialan itu, lalu memangku aku yang terkapar tak berdaya sementara orang-orang disekitarku mengeroyok lelaki itu sampai mati, wajahnya tidak dikenali lagi dan dia memakai G-string pink didalam celana jeans ketatnya. Semua orang tertawa diatas mayatnya yang sudah tak berkutik lagi, sementara aku dan Kiara tersenyum, Kiara mencium lembut kedua mataku kemudian mencium bibirku dan we kissing passionately, orang-orang disekitarku bertepuk tangan dan terharu, kulihat wajah orang-orang yang kutemui hari ini; si wanita bermuka Dory, bapak tua satpam bandara yang punya senyum ramah, anak bayi yang tertawa, anak kecil nakal yang mengajak aku bermain bola, mata Aura yang penuh rasa pura-pura senang mendengar Kiara pulang dan senyum Anushapati yang tidak aku mengerti. Lalu membopong Kiara melangkahi mayat sialan itu disertai tepuk tangan semua orang….zzhhmmfffhhh (hanya khayalanku)

 

Kulihat jam, hampir 35 menit kita seperti ini, dan dia masih asyik saja menelepon orang itu. Kulihat asbak, sudah 8 batang rokok kuhabiskan. Kopi dicangkirpun sudah tandas, kulihat wanita bermuka Dori itu masih tersenyum simpul berdiri dipojokan, siap untuk dipanggil untuk pesanan berikutnya. Ini dia! Waktunya sudah habis. Aku harus mendatanginya dan menanggung resiko apapun yang akan terjadi, even the worst, at least I give a shot, right?
Kupanggil wanita bermuka Dori itu dan meminta bill, tanganku mulai dingin, keringatku menetes sedikit dari pipi ke leherku. Aku berdiri setelah bill datang, lalu aku tersentak melihat sosok yang aku kenal dalam 10 meteran, aku tersenyum ternyata Anushapati teman yang setia, dia pasti kesini khawatir denganku yang tidak pernah dapat menghadapi kenyataan hidupku yang paling indah. Bertemu dengan salah satu kekasihku. Adikku. Obyek mimpi basahku. Aku senang sekali, dia mau menemaniku. Setelah membayar, aku baru mau menghampirinya dengan mengendap-endap. Apa yang dilakukannya? Mengapa dia berbelok ke kiri? Aku panik. Aku mencoba memanggilnya, “Pssstt…pssssttt. Anushapati!, Anusha!” suaraku tertahan. Si bodoh! Kenapa dia malah ke arah Cafe tempat Kiara? Kalau ketahuan, bisa hancur semua rencanaku. Aku maju mundur tidak keruan, linglung. Lalu aku melihat temanku tersayang memeluk dan mencium pipi adikku tercinta. Aku berjalan menghampiri mereka, baiklah, Anushapati telah mempermudah jalanku, seperti biasanya dia sudah mencairkan suasana yang kaku karena Anusha telah menyapanya duluan. Terima kasih, teman! Tapi tunggu! Kok bisa Kiara kenal dengan Anusha? Rasanya aku belum pernah memperkenalkan mereka berdua, aku tahu Anusha mengenal Kiara, tapi…..
Langkahku terhenti, ketika kulihat Anushapati tidak hanya melakukan itu, tapi memeluk tubuh Kiara dan mencium bibirnya. Ya …aku pasti sudah gila. Mencium bibirnya. Kulihat Kiara tertawa bahagia dan mukanya memerah seperti sekuntum mawar yang bersenang-senang ditiup angin dipagi hari. Jarakku hanya terpaut 4 meter dari mereka, tiba-tiba aku merasakan dingin yang amat sangat menerpa tubuhku, seperti ada tenaga ghaib yang menyedot tenagaku dari lutut, seseorang menampar mukaku demikian kesar, rasa sakitnya mulai meluar dari mata, kepala dan terakhir bersarang di dada. Bernafaspun sulit sekali terasa. Aku berusaha berfikir, mungkin…..mungkin Kiara mengira Anushapati itu aku, karena ita sudah tidak bertemu dua tahun, itu waktu yang lama untuk dua orang yang saling mencintai, mungkin juga Anushapati ingin membantuku untuk mempermudah ini semua, dia kan orang yang hangat, tidak seperti aku dingin. Dingin.
Alasan-alasan bodoh berputar di otakku, mencoba mengindari kebenaran yang berasal dari tangkapan alat visualku sendiri.
Tiba-tiba wanita bermuka Dori berdiri disebelahku dan berkata,”Kak, maaf kembaliannya.”
Aku menatapnya nanar, mencari dukungan atas pemikiran positifku yang dibuat-buat.
“Maaf, kakak nggak apa-apa? Sakit? Mukanya pucat sekali.”
Aku melihat sedikit ke arah mereka, kulihat per beberapa detik mereka melihat ke arahku. Kutarik wanita bermuka Dori itu, kupeluk erat-erat membelakangi mereka. AKu membutuhkan penyangga agar aku tidak terjatuh, Wanita itu kaget setengah mati, tapi dia lalu membalas pelukanku, lebih erat. aku berbisik,”Kamu lihat pasangan yang baru pergi dari cafe itu? apa mereka melihat kesini?” tanyaku masih memeluknya.
“Tadi yang laki-laki saja, tapi mereka berdua sudah mau pergi, tapi tampaknya mereka tidak curiga.” Jawabnya, tiba-tiba menjadi spy paling hebat.
“Apa menurutmu laki laki itu seperti seekor anjing pengkhianat?”
“Lebih, dia licik seperti burung pemakan bangkai.” Jawabnya berapi-api.
“Apakah wanita itu mencintainya?”
“Saya belum mengenal mereka, tapi sejauh yang saya lihat sepertinya….iya. Tapi mereka belum menikah, kan? Masih ada jalan untuk mendapatkannya, kak.” Tiba-tiba tangannya membelai rambutku, suaranya menghiburku. Aku merasa lebih tenang.
“Apakah mereka bahagia?” tanyaku seperti anak kecil bodoh.
“Sepertinya….”
Tanpa terasa air mataku turun perlahan membasahi baju seragamnya. Aku terus bersandar dan menangis dipundaknya. Aku bersyukur ada seseorang yang bisa menenangkan hatiku yang lemah, walau aku tidak mengenalnya aku merasa dia sseorang yang sangat manusiawi dan baik hati.
“Maaf, ya. Saya harus kembali kerja, nanti boss saya mengira saya pacaran.” katanya sambil tersipu-sipu malu.
Aku melepaskan pelukanku, aku memegang jemarinya sambil berkata,”Terima kasih, kamu baik sekali.”
“Sama-sama, ini sudah biasa kisah sedih dan senng terjadi dibandara. Kepergian tidak selalu membawa kesedihan dan kedatangan tidak selalu membawa kebahagiaan.”
“Kadang orang baru menyadari membutuhkan, mencintai, membenci seseorang pada saat-saat terakhir di bandara.” Katanya lagi, sambil tersenyum.
Aku tertegun agak lama lalu mengangguk dan membalas senyumannya. lalu dia bertanya lagi,”Maaf, kalau boleh tahu. Yang wanita tadi pacar kakak, ya?”
“Tidak, aku tidak mengenal mereka.” Jawabku tenang sambil berbalik meninggalkan wanita bermuka Dori yang baik hati itu.

Motor tua ini melaju hampir 120km/jam, tapi semuanya terlihat melaju perlahan. Kulihat pohon-pohon dipinggir jalan terlihat jelek, cokelat dan busuk. Gedung-gedung seperti benda aneh yang siap menyerangku. Orang-orang dipinggir jalan terlihat seperti monyet-monyet yang dilengkapi alat-alat hi-tech dan canggih pun memakai pakaian indah dan serba mahal. Saling berbicara, tertawa, berjalan tanpa henti seakan-aan telah di program melakukan rutinitas yang sama. Melakukan kebodohan yang sama berulang-ulang. Lagi dan lagi. Wajah-wajah yang bosan, otak-otak yang lelah dan jiwa-jiwa yang menyesal dilahirkan kedunia.

Monyet-monyet yang sakit.

 

 

 

Dan aku……ya, aku. Seperti seorang petarung tua yang kalah sebelum bertanding, seperti seorang gerilyawan yang dijebak komandannya sendiri. Menampakan diri ditengah peperangan dan mati terbunuh sendirian. Aku seperti dibunuh secara keji diatas kuburan yang aku gali sendiri. Aku bagian dari monyet-monyet sakit itu. Aku sekarat.

Anjing budug! Inikah yang kau sebut saudara sedarah sehidup semati? Kau tidak akan hidup tenang Anushapati! Walaupun bangkaiku sudah mencapai kuburan terdalam didasar tanah, kau tidak akan kulepas begitu saja! Mati-mu lebih akan menderita dariku! Kau akan menjerit memanggil-manggil nama tuhanmu meminta belas kasihan! Demi nama bapak-ibuku yang terkutuk, kau akan rasakan sakitnya dibunuh perlahan oleh orang yang paling kau….percaya.

Tentang akuluka

I'm a whore
Sayatan ini tersimpan pada Cerita. Simpan di permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>